Sabtu, 15 Juli 2017

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung
Maulid Nabi Muhammad SAW
Kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW - Diriwayatkan dari Imam Shihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami asy-Syafi’i di dalam kitabnya “An-ni’matul Kubraa’alal Aalam” di halaman 61. Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW sudah semakin mendekati, Allah SWT semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awwal malam kelahiran al-Musthofa Muhammad SAW.

Pada Malam Pertama : Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga beliau (ibunda Nabi Muhammad SAW), Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam Kedua : Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam Ketiga : Datang seruan memanggil

“Wahai Aminah… sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rasulullah SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT.”

Pada malam Keempat : Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam Kelima : Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah Ibrahim AS.

Pada malam Keenam : Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad SAW memenuhi alam semesta.

Pada malam Ketujuh : Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam Kedelapan : Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan

“Bahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Allah SWT Pencipta Alam Semesta.” 

Pada malam Kesembilan : Allah SWT semakin mencurahkan rahmat belas kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah, sakit, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam Kesepuluh : Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada malam Kesebelas : Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad SAW. Malam detik-detik kelahiran Rasulullah, tepat tanggal 12 Rabiul Awwal jam 2 pagi. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun.

Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad SAW) sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah. Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya.Tiba-tiba beliau, Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat anggun, cantik, dan jelita diliputi dengan cahaya yang memancar berkemilau serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata :

”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad SAW. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Allah Adam AS, ibunda seluruh umat manusia, aku diperintahakan Allah untuk menemanimu.” 

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira : 
“Aku adalah istri Nabi Allah Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.” 

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim, diperintahkan Allah untuk menemanimu.” 

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa AS menyambut kehadiran putramu Muhammad Rasulullah.” 

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puji- pujian kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa yang sangat indah berkilau saling beterbangan.

Detik berikutnya Allah memerintahkan kepada Malaikat Ridwan agar mengomandokan seluruh bidadari syurga agar berdandan cantik dan rapi, memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkota emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian syurga yang harum semerbak ke segala arah lalu trilyunan bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridwan, terlihat wajah bidadari itu gembira.

Lalu Allah SWT memanggil :

“Yaa Jibril… serukanlah kepada seluruh arwah para nabi, para rasul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya kekasihKu cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril… perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridwan untuk membuka pintu-pintu syurga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasihKu Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril… bawalah trilyunan malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah kekasihKu Muhammad SAW telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan trilyunan malaikat. Lalu ibunda Rasulullah SAW di bumi, beliau melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya.

Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih berkilau cahaya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Muhammad Rasulullah SAW dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad SAW bersujud kepada Allah seraya mengucapkan,

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walhamdulillahi katsiro, wasubhanallahibukrotan wa asiilaa.”

Semakin memuncaklah kegembiraan seluruh alam dunia dan semesta dan terucaplah :

“Yaa Nabi Salam Alaika…
“Yaa Rasul Salam Alaika…
“Yaa Habib Salam Alaika…
“Sholawatullah Alaika.. ”

Matanya bagaikan telah dipakaikan sifat mata, senyum indah terpancar dari wajahnya dan hancurlah berhala-berhala dan bergembiralah semua alam semesta menyambut kelahiran Nabi yang mulia…Wallahu ‘alam bish showab, wal ‘afu minkum.

Oleh : @Ali Abdurrahman Al-Habsyi (FB)-Sumber : Aulia Rahman FB
Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim

Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim

Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim
Ilustrasi Seorang Gadis Kecil Yatim
Kisah ini terjadi di Madinah, pada suatu pagi Hari Raya 'Idul Fitri. Rasulullah SAW, seperti biasa tiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan kaum Muslimin agar merasa gembira dan bahagia pada hari raya itu.- Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim

Semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian yang bagus serta mainan-mainan ditanganya.

Namun, tiba-tiba Rasulullah Saw melihat di sebuah sudut jalan ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih sambil menangis . Ia memakai pakaian yang sangat lusuh serta rambut yang acak-acakan dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut :

“Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita:

“Pada hari raya yang suci ini, semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW. Ia berjuang bersama Rasulullah dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hati beliau diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata :

“Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu, dan dengarkanlah apa yang akan kukatakan kepadamu….Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu….Dan Aisyah menjadi ibumu….Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata tersebut, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya...Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah SAW, orang yang menjadi tempat untuk mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah yang lembut itu.

Subhanallah..!Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan oleh beliau, dan rambutnya disisir oleh Sayyidatuna Aisyah. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah oleh Sayyidatuna Fatimah Az-Zahro, dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia pun diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :

“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya, gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah!!!. Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya!!. Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia, ia yang menyisir rambutku. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah, ia yang mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya kelak pada hari Kiamat.Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di dalam Syurga.“

Sumber : FB Aulia Rahman
Detik-detik Terakhir Wafatnya Ummul Mukminin Khadijjah R.ha

Detik-detik Terakhir Wafatnya Ummul Mukminin Khadijjah R.ha

Detik-detik-Terakhir-Wafatnya-Ummul-Mukminin-Khadijjah-Rha
Hari ini hari ke-11 dibulan Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW kehilangan istri yang paling ia cintai..dialah Ummul Mukminin Al-Hakiki di hari ke-10. Di riwayatkan ketika Sayyidah Khadijah as sakit menjelang ajalnya, khadijah berbicara kepada rasul saw:

“Aku memohon maaf kepadamu ya Rasulullah kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu…..” 

Rasul menjawab: 
“Jauh dari itu ya Khadijah, engkau telah mendukung da’wah Islam”.

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Zahra R.ha dan berbisik:

“Zahra putriku, aku yakin ajalku segera tiba, dan yang kutakutkan adalah siksaan kubur. Zahra, tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri agar beliau mau memberikan sorbannya sehari-hari yang biasa untuk menerima wahyu agar di gunakan utk jadi kafanku….”

Rasul mendengar dan berkata: “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu wahai Khadijah, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga….”.

Tiba2 turun Jibril dari langit membawa 5 kain kafan dari langit. Rasul saaw bertanya: "Untuk siapa kafan ini ya jibril??”

Jibril menjawab: "Kafan ini untuk Khadijah, engkau ya Rasulullah, utk Fatimah, untuk ‘Ali dan yang ke 5 utk Hasan….”

Jibril berhenti dan menangis. Rasul saw: kenapa ya Jibril? Jibril berkata: “…..karena cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan di bantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan……”

Nabi bersabda di dekat jasad Sayidah Khadijah R,ha :

”Khadijahku sayang demi Allah….Aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu luar biasa kepada Islam dan diriku. Allah maha mengetahui akan semua amalanmu, semua hartamu kau hibahkan untuk islam, semua kaum muslim ikut menikmatinya, semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini darimu dan permohonan terakhirmu padaku hanyalah sebuah SORBAN….?"

”Ya Allah ya ilahi Robbi Limpahkanlah rahmatmu kepada Khadijahku yang selalu membantuku dalam menegakkan islam, mempercayaiku pada saat orang lain mendustakanku…, mendukungku pada saat orang lain menentangku….. Menyenangkanku pada saat orang lain meyusahkanku…, Menentramkanku pada saat orang lain membuat aku gelisah Oh Khadijahku sayang…. Kau meninggalkanku sendirian dalam perjuangan ini siapa lagi yang akan membantuku kini…"

Tiba-tiba Ali bersuara, “AKU, YA RASULULLAH"

Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.Al Fatihah untuk Sayyidatina Khadijah ...... Semoga aku dan kalian ada di hati beliau di cintai beliau sehingga Rasulullah pun mencintai kita aamiin Ya Robb...

Sumber : FB. Alhabib Anis Assegaf & Aulia Rahman