Rabu, 22 November 2017

Mengenal 10 Nama Malaikat dan Tugas-tugasnya

Mengenal 10 Nama Malaikat dan Tugas-tugasnya

nama Malaikat dan Tugasnya
Berikut ini artikel berjudul 10 Nama-nama Malaikat Beserta Tugasnya yang Wajib diketahui oleh orang Islam. Lengkap dengan pengertian, jumlah dan hukumnya. Semoga dapat mengingatkan kembali bagi yang lupa atau sarana belajar dan menghafal bagi anak.

Pengertian Malaikat

Menurut bahasa Malaikat berasal dari kata "Ma La Ka"(ملك) yang artinya kekuatan. Sedangkan menurut istilah Malaikat adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari Nur / Cahaya.

Sifat bentuk malaikat adalah tidak nampak/ghaib, berakal namun tidak memiliki hawa nafsu seperti jin dan manusia. Malaikat juga memiliki sifat tunduk serta patuh atas segala perintah Allah SWT. dan beribadah tanpa henti.

Jumlah Malaikat

Berapakah jumlah seluruh malaikat sebenarnya? Banyak dalil jumlah malikat yang diciptakan Allah SWT didalam Al-Qurán ada disebutkan,1000, 3000, 5000. Sedangkan didalam hadis Nabi SAW diantaranya menyebutkan 70.000 Malaikat. Wallahu A'lam.

Hukum Beriman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat hukumnya adalah wajib bagi muslimin dan muslimat yang termasuk rukun iman yang kedua. Salah satu dalilnya didalam Al-Qurán :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ
وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."(QS-An Nisaa:136).



10 nama Malaikat Beserta Tugas-tugasnya

Meskipun banyaknya jumlah malaikat tak terhingga namun kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. hanya wajib mengetahui 10 nama malaikat beserta tugasnya sebagai berikut :
  1. Malaikat Jibril - Tugasnya Menyampaikan Wahyu dari Allah SWT kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
  2. Malaikat Mikail - Tugasnya membagikan rezki dan hujan.
  3. Malaikat Isrofil - Tugasnya Meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
  4. Malaikat Izroil - Tugas malaikat Izrail yaitu mencabut nyawa makhluk.
  5. Malaikat Munkar - Tugasnya menanyakan pertanyaan kepada manusia di alam kubur.
  6. Malaikat Nakir - Tugasnya bersama Malaikat Munkar yaitu menanyai manusia di alam kubur.
  7. Malaikat Raqib - Tugasnya mencatat amal kebaikan manusia semasa hidup.
  8. Malaikat Atid - Tugasnya mencatat amal keburukan manusia semasa hidup.
  9. Malaikat Malik - Tugasnya menjaga Neraka.
  10. Malaikat Ridwan - Tugasnya menjaga Syurga.
Demikian kiranya artikel 10 nama-nama malaikat serta tugas-tugasnya, semoga bermanfaat dan dapat menambah keimanan kita. Aamiin.

Sabtu, 18 November 2017

Sejarah Peringatan / Perayaan Maulid Nabi SAW

Sejarah Peringatan / Perayaan Maulid Nabi SAW

Sejarah Maulid
Bagaimana Sejarah Peringatan atau Perayaan Maulid Nabi saw - Kontroversi mengenai masalah hukum peringatan / perayaan maulid Nabi Muhammad saw tidak bisa lepas dari sejarah maulid itu sendiri, kapan di adakan dan oleh siapa. Berikut sejarah atau asal usul peringatan / perayaan Maulid Nabi saw.

Memang benar Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.

Menurut Al-Sakhowi, al-Maqrizi Al-Syafi’i (854 H) dalam bukunya “Al-Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyah di Mesir. Dinasti Fathimiyyah mulai menguasai Mesir pada tahun 358 H dengan rajanya Al-Muiz Lidinillah.

Namun sebenarnya menurut DR.N.J.G. Kaptein peneliti sejarah kebudayaan Islam dari Leiden University sumber asli yang menyebutkan tentang Maulid Nabi pada zaman tersebut sudah hilang.

Konsekuensinya, perayaan Maulid pada zaman Fathimiyyah hanya diketahui secara tidak langsung dari beberapa sumber sejarawan yang hidup belakangan seperti Al-Maqrizi yang hanya melacak dari kitab yang telah hilang dari ulama zaman Fathimiyyah yaitu Ibnu Ma’mun ( Nama lengkapnya adalah Jamaluddin ibn Al-Ma’mun Abi Abdillah Muhammad ibn Fatik ibn Mukhtar Al-Bata’ihi dilahirkan sekitar sebelum tahun 515 H.

Ayahnya adalah seorang wazir dinasti Fathimiyyah) dan Ibnu Tuwayr (Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdus Salam Al-Murtadho ibn Muhamammad ibn Abdus Salam ibn Al-Tuwayr Al-Fahrani Al-Qaysarani(525/1130-617/1220) seorang ulama dan sejarawan Mesir di antara kitabnya adalah Nuzhatul al maqtalaini fi akhbar al duwalataini al fatimiyyah wa sholahiyyah) Ibnu Al-Ma’mun.Kitab Sejarah yang paling awal menyebutkan tentang maulid di zaman Fathimiyyah adalah kitab karangan Ibn Al-Ma’mun.

Sebenarnya kitab ini sudah hilang tetapi ada beberapa penulis yang menggunakan sumber dari hasil karya beliau di antaranya adalah Ibn Zafir (Wafat 613/1216 )[7], Kedua Ibn Muyassar(677/1277), ketiga Ibn Abd Al Zahir (w 692/1292). Tetapi yang paling banyak menggunakan sumber dokumentasi sejarah Ibn Ma’mun adalah sejarawan Al-Maqrizi Al-Syafi’i.

Dalam beberapa bagian dalam kitab Khutat, Ibn Al-Ma’mun adalah salah satu sumber yang paling penting tentang deskripsi acara acara yang dilakukan oleh Dinasti Fathimiyyah seperti perayaan hari besar, festival, upacara dan sebagainya. Karena Ibn Al-Ma’mun adalah saksi hidup sebagai anak dari seorang wazir yang biasa menyelenggarakan banyak kegiatan perayaan dan seremonial kerajaan.

Maulid di kenal kala itu dengan kata “Qala”. Ibn Al-Ma’mun berkata : sejak Afdhal Syahinsyah ibn Amirul Juyusy Badr al-Jamali menjadi wazir dia menghapus empat perayaan maulid yaitu maulid Nabi, Ali, Fatimah, dan imam yang saat itu memerintah. Sampai dia wafat tahun 515H barulah perayaan Maulid Nabi diselenggarakan lagi seperti dahulu oleh khalifah Al-Amir dan itu diteruskan sampai sekarang.

Ibn Al-Tuwayr.Sumber kedua dari informasi perayaan Maulid pada zaman Fatimiyah adalah Ibn Al-Tuwayr. Penulis yang banyak menggunakan tulisan dia sebagai sumber sejarah adalah di antaranya adalah Ibn Al-Furat (807H), Ibn Khaldun (808H), Ibn Duqmaq (809H), Al-Qashashandi (821H), Al-Maqrazi (845H), Ibn Hajar Al-Asqalani (874H), Penulis-penulis tersebut menggunakan sumber informasi Ibn Tuwayr untuk mengkaji peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era Dinasti Fathimiyyah.

Beberapa peristiwa sejarah penting tentang sebuah perayaan terdapat di dalam dokumennya yang disebut mukhlaqat yang kemudian dicatat oleh para sejarawan selanjutnya seperti Al-Maqrizi yang kitab nya bisa kita baca pada zaman sekarang.Ibn Al-Tuwayr berkata, perayaan Maulid saat dinasti Fathimiyyah itu ada enam perayaan dan di antaranya adalah perayaan Maulid Nabi, Ali Bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husein, dan Khalifah yang saat itu memerintah.

Ketika 12 Rabiul Awal datang, di beberapa tempat diadakan acara besar seperti membaca Al-Qur’an, pengajian di beberapa masjid dan mushola, dan beberapa majelis juga ikut untuk merayakannya.

Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya bidayah wa nihayah, diikuti oleh Alhafiz Imam Suyuthi dalam Husn Al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid juga pendapat yang dikuatkan oleh Prof Dr Sayyid Muhammad Alwi Al maliki dalam kitabnya Haula al Ihtifal bil Maulidi Nabawy As Syarif, menurut mereka yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi adalah seorang Raja Irbil (Saat itu gubernur terkadang di sebut malik atau amir.

Irbil saat itu adalah propinsi masuk dalam Dinasti Ayyubiyyah.Irbil saat ini masuk dalam wilayah Kurdistan Iraq) yang dikenal keshalehannya dan kebaikannya dalam sejarah Islam yaitu Malik Muzhaffaruddin Abu Said Kukburi ibn Zainuddin Ali Ibn Tubaktakin pada tahun 630 H.

Beliau adalah seorang pembesar dinasti Ayyubiyah yang kemudian dia mendapatkan mandat untuk memerintah Irbil pada tahun 586 H. Ibn Katsir bercerita mengatakan: "Malik Muzhaffaruddin mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal". Beliau merayakannya secara besar-besaran.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al- Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut Malik Muzhaffaruddin mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, ulama hadits, ulama kalam, ulama ushul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari pelaksanaan beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ia menyembelih 15.000 ekor Kambing, 10.000 ekor Ayam, 100 Kuda, 100 ribu keju, 30 ribu manisan untuk hidangan para tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut.

Setiap tahunnya perayaan ini menghabiskan 300.000 Dinar. Perayaan ini diisi oleh ulama-ulama serta tokoh-tokoh sufi dari mulai Dzuhur sampe Subuh dengan ceramah-ceramah dan tarian-tarian sufi. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar besar-besaran itu.

Menurut ibn khalIikan, perayaan tersebut dihadiri oleh ulama dan sufi-sufi dari tetangga irbil, dari Baghdad, Mosul, Jaziroh, Sinjar, Nashibin, yang sudah berdatangan sejak Muharram sampai Rabiul Awwal. Pada awalnya Malik Muzhaffaruddin mendirikan kubah dari kayu sekitar 20 kubah, di mana setiap kubahnya memuat 4-5 kelompok, dan setiap bulan Safar kubah-kubah tersebut dihiasi dengan berbagai macam hiasan indah, di setiap kubah terdapat sekelompok paduan suara dan seperangkat alat musik, pada masa ini semua kegiatan masyarakat terfokus pada pelaksanaan acara pra-maulid dan mendekorasi kubah-kubah tersebut.

Ibn Khallikan juga menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak, ketika melintasi daerah Irbil, beliau mendapati Malik Muzhaffaruddin , raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi.

Oleh karenanya al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul "At-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An- Nadzir". Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Raja Al-Muzhaffar.

Perayaan itu dilaksanakan 2 kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 8 Rabiul Awal dan 12 Rabiul Awal, karena perbedaan pendapat ulama dalam Maulid Nabi. Di Indonesia, terutama dipesantren, para kyai dulunya hanya membacakan sya ’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam.

Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.

Sejarah perayaan Maulid Nabi Muhamad SAW itu bukan dari SYI'AH!!!, Siak penjelasannya sbb:
Sumber : Youtube | Hadits TV

Sekalipun dalam dua pendapat ini menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 4 H dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Karena segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran Rasulullah sendiri. (Baca: Hukum Perayaan / Peringatan Maulid Nabi SAW).

Sumber: FB/Muh.Khanafi 
Hukum Perayaan / Peringatan Maulid Nabi SAW Ust.Abdul Somad

Hukum Perayaan / Peringatan Maulid Nabi SAW Ust.Abdul Somad

Maulid Nabi Muhammad saw
Hukum Perayaan / Peringatan Maulid Nabi SAW
Latar Belakang dan Dasar Hukum Peringatan / Perayaan Maulid Nabi SAW - Bolehkah merayakan maulid nabi? Apa hukumnya merayakan atau menghadiri maulid Nabi saw?

Hukum Maulid Nabi - Sering kali hal yang di anggap "bid'ah" oleh sebagian saudara sesama muslim kita menjadi topik hangat dan bahkan menjadi kontrofersi dalam pengambilan hukum. Apapun itu, sekiranya jangan sampai memecah belah persatuan umat di Indonesia ini.

Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah dan rahmat bagi sekalian alam. Nabi Muhammad saw. adalah nikmat terbesar dan anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta.

Ketika manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik.

Penyembahan terhadap berhala-berhala suatu kehormatan, perzinaan suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi adalah kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah suatu keberanian.

Di saat seperti ini rahmat ilahi memancar dari jazirah Arab. Dunia ini melahirkan seorang Rasul yang ditunggu oleh alam semesta untuk menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya ilahi.

Di dalam kitab Simtut Duror - Kelahiran makhluk mulia yang ditunggu jagad raya membuat alam tersenyum, gembira dan memancarkan cahaya. Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi pengarang kitab Maulid Habsyi (Biasa disebut Simtut Duror atau lengkapnya Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa awshaafi wa siyar) menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam syairnya yang indah:


اشرق الكون ابتهاجا بوجود المصطفى احمد و لأهل الكون انس وسرور قد تجدد 

"Alam bersinar cemerlang bersukaria demi menyambut kelahiran Ahmad Al-Musthofa Penghuni alam bersukacita Dengan kegembiraan yang berterusan selamanya".

Dengan tuntunan Allah SWT Nabi Muhammad SAW pun berhasil melaksanakan misi risalah yang diamanahkan kepadanya.

Setelah melalui perjalanan dakwah dan jihad selama kurang lebih 23 tahun dengan berbagai macam rintangan dan hambatan yang menimpa Rasulullah SAW berhasil mengeluarkan umat dan mengantarkan bangsa Arab dari penyembahan makhluk menuju kepada penyembahan Rabbnya makhluk, dari kezaliman pada masa jahiliyah menuju keadilan Islam.

Jazakallah ya Rasulallah an ummatika afdhola ma jazallah nabiyyan an ummatih. Baiklah sebelum membahas masalah memperingati Maulid Nabi SAW serta membahas dalil-dalil yang menunjukan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan perayaan maulid

Pertama

Kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau yaitu Rabi’ul Awwal dan pada hari kelahiran beliau hari Senin.

Tidak layak seorang yang berakal bertanya,"Mengapa kalian memperingatinya?" Karena, seolah-olah ia bertanya,"Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?" Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban.

Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, "Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin".

Kedua

Yang dimaksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.

Ketiga

Kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian.

Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.

Keempat

Berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan.

Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan dan fitnah.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah? dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar.! Sebagai pembuka dalam pembahasan memperingati Maulid Nabi SAW, ada baiknya kita kutip perkataan seorang ulama kharismatik dari Universitas Al-Azhar Mesir Imam Mutawalli Sha`Rawi dalam bukunya al-Fikr Ma’idat al-Islamiyya yang berpendapat bahwa :

"Jika makhluk hidup bahagia atas kelahiran Nabi nya itu dan semua tanaman senang atas kelahirannya, semua binatang senang atas kelahirannya semua malaikat senang atas kelahirannya, dan semua jin senang atas kelahirannya, mengapa engkau mencegah kami dari yang bahagia atas kelahirannya? " (untuk menjawab pendapat orang orang yang tidak memperbolehkan perayaan ini).

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

"Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."(QS.Yunus:58).

Dari latar belakang ini lah umat islam merasakan kebahagian luar biasa atas kelahiran nabi dan memperingatinya setiap tahunnya, bahkan pada saat ini di setiap negara muslim, kita pasti menemukan orang-orang yang merayakan ulang tahun Nabi yang disebut dengan hari Maulid Nabi.

Hal ini berlaku pada mayoritas umat islam di banyak Negara misalnya sebagai berikut: Mesir, Suriah, Libanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat, Saudi Arabia (pada sebagian tempat saja) Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian besar negara- negara Islam lainnya.

Di negara-negara tersebut bahkan kebanyakan diperingati sebagai hari libur nasional. Semua negara-negara ini yaitu duwal islamiyah merayakan hari peringatan peristiwa ini.

Bagaimana bisa pada saat ini ada sebagian minoritas yang berpendapat dan mempunyai keputusan bahwa memperingati acara maulid Nabi adalah sebuah keharaman dan bid’ah yang sebaiknya di tinggalkan oleh umat islam.

Hukum perayaan maulid telah menjadi topik perdebatan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara kalangan yang memperbolehkan dan yang melarangnya karena dianggap salah satu bentuk bid’ah. Hingga saat ini pun masalah hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan kalangan muslim.

Ironisnya di beberapa lapisan masyarakat muslim saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling menghujat, saling menuduh sesat dan lain sebagainya.

Bahkan yang tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat.

Oleh karena itu, untuk lebih jelas mengenai duduk persoalan "Hukum Perayaan / Peringatan Maulid Nabi SAW" ini, ada baiknya kita telaah kembali sejarah pemikiran Islam tentang perayaan Maulid ini dari pendapat para ulama terdahulu dan menelisik lebih jauh awal mula tradisi perayaan Maulid ini (Baca: Sejarah Perayaan / Peringatan Maulid Nabi saw.).

Mari kita simak penjelasan dari Ustad Abdul Somad Lc.MA:

 Sumber : Youtube Tafaqquh Video

Tentu saja tulisan ini tidak memuat semua pendapat ulama Islam, tetapi cukup dapat dijadikan rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran dalam memahami hakikat Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.(Baca: Dalil - dalil Peringatan / Perayaan Maulid Nabi saw).

Sumber: FB/Muh.Khanafi
Rukun Iman dan Rukun Islam Serta Penjelasannya

Rukun Iman dan Rukun Islam Serta Penjelasannya

Rukun Iman dan Islam
Rukun Iman dan Rukun Islam
Rukun iman dan rukun Islam - Adalah sesuatu yang wajib bagi kaum muslimin dan muslimat untuk mempelajari dan menghafal rukun iman dan rukun Islam kemudian mengamalkannya.

Berikut ini AQIDAH ISLAM akan memuat artikel yang membahas sekelumit tentang Rukun Iman dan Rukun Islam serta penjelasannya.


RUKUN IMAN
Rukun Iman Ada Enam yaitu :
  1. Beriman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat-malaikat-Nya
  3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada Rasul-Nya
  5. Iman pada hari akhir
  6. Iman kepada Qada dan Qadar dari Allah swt.
Penjelasan Rukun Iman 

Makna Iman - Yang dimaksud Iman di sini ialah, meyakini dalam hati dan membenarkan kepada segala ajaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah swt. Keimanan kepada Allah ada beberapa derajat atau tingkatan, seperti:

  • Arti Taklid yaitu, percaya kepada Allah berdasarkan perkataan orang lain, tidak mengetahui dalil-dalilnya sebagaimana yang diterangkan dalam 'Aqaid Iman yang dua puluh sifat itu. Bagi setiap mukmin di wajibkan mengetahui 'Aqaid Iman berikut dalil-dalil yang menunjukkan adanya Allah dan sifat-sifat-Nya, sehingga dapat mencapai kepada derajat iman yang nomor dua.
  • Iman berdasarkan ilmu yaitu, mengetahui 'aqaid iman berikut dalil-dalil yang dua puluh sifat itu.
  • Iman 'Iyan yaitu, keimanan orang-orang yang ma'rifat (mengenal Allah) sehingga hatinya selalu ingat kepada Allah dan merasa dilihat olehnya kemana dan dimana pun dia berada. Tingkatan iman ini disebut: Iman Yakin dan muraqabah.
  • Dan lain-lainnya yang lebih tinggi dari itu yaitu, keimanan para Nabi dan para wali Allah.
Adapun Malaikat adalah Makhluk Allah yang halus sebangsa cahaya, bukan laki-laki atau perempuan, tidak beribu atau berbapak, tidak makan dan tidak minum atau tidur, selamanya beribadah kepada Allah.

Percaya kepada kitab Allah yaitu: bahwa Allah telah menurunkan kitab-Nya melalui para Rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup oleh seluruh manusia. Semua kitab Allah itu ada 104 buah, yang wajib diketahui nama-namanya hanya empat kitab, yaitu:
  1. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud as
  2. Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Nabi Musa as
  3. Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa as
  4. Kitab Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Percaya kepada Rasulullah, dia adalah laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah untuk disampaikan kepada umatnya agar di jadikan pedoman hidup untuk beribadat kepada Allah. Dalam Islam semua Rasul itu ada 314 atau 315 orang, yang wajib diketahui nama-namanya ada 25 Rasul.

Percaya kepada hari kiamat yaitu, percaya bahwa kehidupan dunia ini tidak kekal, nanti ada penghabisannya yaitu hari ketika seluruh alam ini hancur. kemudian diikuti hari akhirat, yaitu hari (kehidupan baru) dimana seluruh manusia ini akan dihidupkan kembali guna menerima seluruh pembalasan amal perbuatannya waktu hidup di dunia. Hari akhirat adalah hari yang kekal, tidak ada ujungnya.

Percaya kepada takdir Allah, yaitu mengitikadkan bahwa sebelum Allah menciptakan dunia berikut seluruh manusia ini, Dia telah membuat ketentuan untuk hidup, mati, kaya, miskin, sakit, umur, dan lain-lainnya yaitu yang disebut Qadha Allah.

Kemudian sekarang kita hidup di dunia, untuk memenuhi ketentuan Allah pada zaman azali sedangkan keadaan sekarang ini disebut Takdir Allah. Baik dan buruknya nasib kita atas ketentuan Allah. Hanya kita wajib berikhtiar sebab berakal.




Rukun Islam itu ada lima perkara, yaitu:
  1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah
  2. Mengerjakan shalat 5 Waktu
  3. Mengeluarkan zakat
  4. Puasa  pada bulan Ramadhan
  5. Menunaikan ibadah haji bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.  
Penjelasan Rukun Islam
  1. Lima perkara tersebut adalah tiang agama islam, disamping itu masih banyak lagi hukum islam sebagai cabang dan rantingnya.
  2. Arti Islam menurut bahasa ialah : patuh, tunduk. Sedangkan menurut istilah, ialah : Mematuhi (tunduk) atas semua hukum syara'.
  3. Kewajiban orang mukmin ialah, mengitikadkan bahwa Allah adalah Zat Yang Mahaesa, Tunggal, tiada berserikat dengan yang lainnya, yang Maha Sempurna dan Maha Suci dari segala macam sifat kekurangan. Dan mengitikadkan, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang termulia, yang baik segala tingkah lakunya dan ucapannya, lahir maupun batinnya juga dijadikan oleh Allah sebagai contoh teladan bagi seluruh umatnya yang takwa kepada Allah.
  4. Setiap orang yang membaca dua kalimah syahadat di sebut muslim, walaupun belum mengerjakan rukun Islam yang lainnya, hanya belum benar keislamannya.
Demikian Artikel "Rukun iman dan rukun Islam serta penjelasannya" ini. semoga dapat bermanfaat dunia akhirat.
Dalil Bantahan Apakah Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Dalil Bantahan Apakah Orang Tua Nabi Masuk Neraka

dalil-bantahan-orang-tua-nabi-masuk-neraka
Makam Ibunda Nabi SAW Siti Aminah
Penjelasan Tentang Apakah Kedua Orang Tua Rasulullah SAW - Akhir-akhir ini ada kelompok yang mengaku sebagai muslim yang berpegang teguh kepada sunnah dan Al-quran. "Mereka menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW masuk Neraka". Manakah yang benar, orang tua Nabi wafat dalam keadaan islam (tauhid) atau menyembah berhala?

Apakah orang tua Nabi Muhammad masuk Neraka? - Al-Qodli Abu Bakar bin Al-A'Robi pernah ditanya tentang orang yang menyatakan bahwa orang tua dan nenek-moyang Rasulullah SAW masuk neraka (karena musyrik). Beliau menjawab sebagai berikut : "Sesungguhnya orang yang berkata demikian itu dilaknat oleh Allah swt, karena Allah swt berfirman":

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka dikutuk Allah di dunia dan akhirat dan disediakanNya untuk mereka siksa yang menghinakan". (QS:Al-Ahzab:57).

Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Rasulullah SAW selain menyatakan bahwa orang tua beliau masuk neraka. Imam AI-Suhaili berkata: "Kita tidak boleh berkata yang demikian itu (masuk neraka karena musyrik) pada kedua orang tua Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian menyakiti orang yang masih hidup dengan mencaci yang sudah meninggal".

Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Ada 3 alasan mengapa kedua orang tua Rasulullah SAW tidak termasuk ahli neraka sebagaimana yang dituduhkan sebagian kalangan, yaitu:

  1. Masa Fatrah - Seperti dimaklumi, kedua orang tua Rasululah SAW hidup pada masa fatroh adalah zaman dimana tidak ada utusan Allah (Rasul) yang menyebarkan kebenaran dan mengajak manusia kepada jalan yang benar. Selisih waktu antara Nabi lsa AS dengan Rasulullah SAW adalah 600 tahun. Sayyid Abdullah, ayah Rasululah SAW, wafat pada usia delapan belas tahun saat Rasulullah SAW masih berada dalam kandungan ibunya. Sementara Sayyidah Aminah,ibunda Rasulullah SAW, wafat pada usia 20 tahun saat usia Rasullullah SAW 6 tahun.

    Pada masa itu orang-orang yang mengerti kitab- kitab nabi terdahulu tersebar di negara-negara Syam, bukan di Arab, karena nabi-nabi terdahulu tidak diutus untuk bangsa Arab. Dengan demikian, jika kedua orang tua Rasulullah tidak bersyahadat dan beriman atas kerasulan Muhammad SAW, tentu hal itu dapat dimaklumi karena mereka wafat pada saat Nabi Muhammad SAW belum diutus menjadi Rasul. Allah SWT berfirman:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

    "Dan Kami tiada menyiksa (suatu kaum) sehingga Kami utus seorang Rasul (kepadanya)."(QS.• Al-lsro': 15).

    Tidak ada petunjuk kuat yang menegaskan bahwa kedua orang tua dan kakek Rasulullah SAW sampai Nabi Adam AS dari golongan musyrikin. Bahkan sebaliknya, mereka adalah golongan kaum yang meng-esa-kan Allah SWT dan tidak menyekutukan ­ Nya seperti halnya kaum jahiliyah Arab. Allah SWT berfirman:
    الَّذِي يَػرَاؾَ حِينَ تَػقُو . وَتَػقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

    "Yang melihatmu ketika engkau berdiri ( sembahyang) dan ketika engkau bolak-balik , dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)."(QS:Asy­ Syu' araa':218-219).

    Menurut para ulama ahli Tafsir, ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW dilahirkan dari orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah SAW. Rasulullah SAW bersabda: "Secara terus menerus aku dipindahkan daribeberapa tulang iga yang suci pada rahim yang suci ."Allah SWT berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

    " Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis". (QS:At-Taubah:28).

    Dengan demikian, kedua orang tua Rasulullah SAW sampai generasi di atas bukan tergolong kaum yang najis, yakni yang menyekutukan Allah SWT.

  2. Do'a Nabi Ibrahim - Seperti dijelaskan para ahli sejarah bahwa Rasulullah SAW adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS. Salah satu doa Nabi ibrahim seperti tercantum dalam AI-Qur 'an:
    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

    "Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat,begitu anak -anak turunku. Ya Tuhan kami, dan perkenankanlah do'a ku."(QS:I brahim:40).

    Tentu do'a Nabi Ibrahim ini tidak akan sia-sia. Ayat ini menjadi jaminan bahwa seluruh keturunan Nabi lbrahim adalah orang-orang yang tidak menyembah selain kepada Allah SWT. Adapun firman Allah SWT :
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    "Dan lngatlah ketika Ibrahim berkata kepada"bapaknya" Azar, adakah engkau ambil berhala menjadi Tuhan. Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata".(QS:AI-An' am:74)

    Menurut riwayat Abi Hatim dari lbnu Abbas, yang dimaksud dengan Azar, bapak Ibrahim AS, adalah pamannya dan bukan bapak kandungnya. Ada pun nama bapak kandung Ibrahim AS adalah Tarikh bin Syarikh bin Nakhurin. Di kalangan kaum Arab, penggunaan kata-kata "bapak" untuk sebutan paman adalah hal yang sudah lumrah, biasa dan digunakan sehari-hari.

  3. Mu'jizat Nabi SAW - Pendapat ini dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya ahli Tafsir yang sangat terkenal yaitu Imam Fahruddin AI-Rozi.Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa dengan mu'jizatnya dan atas seizin Allah SWT, Rasulullah SAW menghidupkan kembali kedua orang tuanya, kemudian mengucapkan kalimat syahadat dan beriman. Mu' jizat Nabi dengan menghidupkan orang yang sudah meninggal bukan hal yang mustahil. Kejadian serupa pernah dilakukan oleh Nabi lsa as.

Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Pendapat yang terakhir ini dinyatakan oleh beberapa ulama ahli Hadits, di antaranya ulama ahli Hadits yang sangat terkenal dan bergelar Al-Hafidz, yaitu Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khotib Al-Baghdadi. Juga Imam Al-Suhaili, AI-Qurthubi, Muhibbu at-Thobari, Nashiruddin ibnu Al-Munir, dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan gelar AI-Hafidz dalam istilah ilmu Hadits adalah orang yang memiliki banyak hafalan matan Hadits. Menurut sebagian pendapat, orang yang bergelar ai-Hafidz harus memiliki hafalan minimal 100.000 matan hadits dengan sanad yang bersambung kepada Rasululah SAW

Adapun tentang hadits bahwa seorang laki-laki A'robi (Arab pedalaman) bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?" Rasulullah SAW menjawab, "Di neraka." Kemudian setelah laki-laki itu berpaling Rasulullah SAW memanggilnya dan berkata,"Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka." (HR. Muslim). Dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Imam AI-Hafidz AI­ Suyuthi, kalimat "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka," tidak disepakati oleh beberapa perawi hadits dan hanya diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. Inilah jalur yang dipakai oleh Imam Muslim.

Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ma'mar dari Tsabit dari Anas dengan perawi yang shahih. Dalam riwayat ini tidak terdapat kalimat "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka."

Redaksinya adalah: Berkata A'robi, "Ya Rasulullah, dimanakah bapakku?" Rasulullah SAW menjawab: "Berada di neraka." Berkata A'robi, "Dimanakah bapakmu?" Rasulullah SAW berkata, "Apabila engkau melewati kuburan orang kafir, maka berilah ia kabar gembira (maksudnya kabar duka) dengan siksa neraka".

Dalam hadits riwayat Ma'mar ini sama sekali tidak dimuat informasi mengenai keberadaan orang tua Rasulullah SAW. Menurut penilaian ulama ahli Hadits, riwayat ini lebih kuat daripada riwayat hadits pertama yang memuat informasi mengenai keberadaan orang tua Rasulullah SAW yang berada di neraka seperti dalam pertanyaan si A'robi.

Ini disebabkan status Ma'mar, perawi hadits kedua, lebih dapat dipercaya (tsiqoh) daripada Hammad, perawi hadits yang pertama karena pada riwayat hadits yang lain banyak yang diinkari oleh para ahli hadits. Menurut para ulama ahli hadits, anak tiri Hammad memalsukan beberapa hadits pada kitab kumpulan hadits Hammad. Oleh sebab itulah maka Imam Bukhori tidak mengambil satu pun riwayat hadits dari Hammad.

Dengan demikian, sebagai pegangan paling tepat adalah hadits yang bersumber dari riwayat Ma'mar, bukan riwayat Hammad. Disamping itu, jawaban Rasulullah SAW pada riwayat Ma'mar lebih tepat.

Pertanyaan itu keluar dari seorang A'robi, yang dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah dan kemurtadan sebab menurut riwayat Al-Baihaqi, pada saat itu A'robi masih belum masuk Islam, wajar jika Rasulullah SAW khawatir apabila jawaban itu disampaikan dengan keadaan yang sebenarnya bahwa orang tua Rasulullah SAW tidak berada di neraka, sedangkan orang tua si A'robi masuk neraka, ini tentu akan membuatnya sangat kecewa.

Mengapa nasib orang tuanya tidak sama dengan orang tua Rasulullah SAW. Ini akan sangat memungkinkan murtadnya si A'robi atau keengganannya memeluk agama Islam. Orang-orang A'robi dikenal berwatak keras dan tidak suka mengalah terhadap orang lain.

Demikian jawaban singkat ini,semoga dapat menjadikan iman dan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan keturunannya bertambah besar. Berikut pula silahkan disimak cuplikan penjelasan dari Al Habib Umar Hafidz, silahkah di share - Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka



(Lihat. Ghomzu 'Uyuni ai-Bashoir, juz 3, him. 241 , Masaliku ai-Hunafa fi Walday ai-Mushthofa, him. 12, 18, 27,42, 43, 51, 52, 53, 60, 63. AI-Ta'dhim wa al-Minnah, him. 40, 43, 54. AI-Durj AI-Munifah fi ai-Aba' ai-Syarifah, hlm.18).

Sumber: CN Istifta’

Senin, 13 November 2017

Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita Menurut Imam Syafi'i

Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita Menurut Imam Syafi'i

Ziarah Kubur Bagi Wanita

Ziarah kubur bagi wanita - Seluruh ulama sepakat atas sunnahnya ziarah kubur bagi laki-laki. Ziarah kubur dapat mengingatkan kita kepada kematian dan menjadi bahan perenungan.

Doa peziarah juga bermanfaat bagi penghuni kubur. Pada awal Islam ziarah kubur memang dilarang. Namun larangan itu kemudian di hapus berdasarkan sabda Rasulullah saw,

"Dulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur. Kemudian Muhammad telah diizinkan untuk menziarahi kubur ibunya, maka berziarahlah kalian karena itu dapat mengingatkan akhirat." (HR.Turmudzi).

Lalu bagaimanakah hukum ziarah kubur bagi perempuan?. Apakah penghapusan hukum yang berdasarkan hadits di atas berlaku umum ataukah hanya untuk laki-laki saja.

Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita

Jumhur Ulama usul menyatakan penghapusan itu berlaku umum bagi laki-laki maupun perempuan, kecuali ulama usul madzhab Syafi'i. Berikut hukum ziarah kubur bagi wanita menurut Imam Syafi'i:

  • Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi'i, hukumnya ziarah kubur bagi wanita adalah makruh sebab wanita cenderung lemah menghadapi musibah, sehingga dikhawatirkan timbul rintihan kesedihan atau ratapan ketika mereka berziarah.
  • Ada pula yang meyatakan hukum ziarah kubur untuk wanita adalah  haram, berdasarkan hadits: لَعَنَ اللَّه زَوَّارَات الْقُبُور artinya : "Allah melaknat wanita-wanita yang sering berziarah kubur". (HR.Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi).
  • Sedangkan dalil yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita: artinya: Nabi saw melewati seorang wanita yang menangis di samping kubur, beliau bersabda,"Bertakwalah anda dan bersabarlah". (HR.Bukhari)
Kesimpulan: Apabila wanita berziarah kubur tanpa menyalahi syariat, yakni tanpa ada ikhtilat, keluar bersama mahram atau suami, menutup aurat, tidak ditakutkan timbulnya fitnah dan tidak untuk meratap dan menangisi mayit, maka hukumnya khilaf.

Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi'i ziarah kubur bagi wanita hukumnya makruh. Namun jika menyalahi syariat atau ditakutkan akan timbul fitnah, maka semua ulama menyepakati hukum ziarah kubur bagi wanita haram. - Ziarah kubur bagi wanita