Senin, 18 September 2017

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?
Classic Calendar
Hafalkah anda bulan-bulan Islam? - Sebutkan nama-nama bulan dalam kalender Islam, nama Bulan Hijriyah dalam bahasa Arab. Bandingkan jika anda diminta menyebutkan kalendar bulan masehi, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, July, Agustus, September, Oktober, November dan Desember. Sangat mudah diluar kepala. Mengapa demikian?

Sumber Facebook : Dedi Kurniawan - Akhir-akhir ini ummat Islam digiring untuk melupakan tradisi-tradisi yang baik yang sesuai syariat dan diajarkan oleh kakek moyang kita dahulu. Dengan alasan Jargon "Ketinggalan Zaman", "Kuno", "Norak", dan bahkan "Umpatan BID'AH" yang terlontar dari mulut saudara kita sendiri.

Sedikit demi sedikit bergeser pula akhlaq dan moral sehingga mengikuti tradisi kaum kafir. Muharrom sebagai tonggak awal penanggalan dalam kalender Hijriyyah sudah banyak dilupakan oleh sebagian kita generasi Kaum Muslimin akibat dekadensi moral yang diusung oleh pemahaman liberalis, komunis, freemansory, illuination dan pemujaan syahwat lainnya.

Bahkan tak jarang sebagian kita tidak hafal dan mengenal Bulan Hijriyyah sebagai penanggalan dalam kalender Islam. Yang kita tahu hanya menyambut tahun baru Masehi di akhir tanggal 31 Desember untuk menyambut Tahun Baru Masehi di Bulan Januari dengan cara meniup terompet, hitung mundur, hura-hura dan pesta pora lainnya dengan beragam kemaksiatan yang pada akhirnya kita semua terjerembab dalam kubangan lumpur dosa karrna mengikuti tradisi kaum kafir.

Untuk itu, beberapa hari lagi, kita memasuki TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARROM 1439 H, mari jadikan mementum tahun baru hijriyyah dengan memperbanyak do'a, dzikir, sholawat, maulidan dan aneka tradisi yang membakar semangat dalam lingkup Ukhuwah Islamiyyah dan Intropeksi diri (Muhasabah) dan syi'ar keislaman.

Akhirul Kalam mari kita selalu mempererat tali silaturrahim dan ukhuwwah, menjaga stabilitas keimanan diri kita dan memperkokoh benteng keimanan ditengah bobroknya moral sebagian kaum muda Islam.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYYAH 1439 H.SEMOGA ALLAH SWT. MELINDUNGI AQIDAH DAN KEIMANAN KITA DARI FAHAM DI LUAR AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH

Berikut adalah daftar nama-nama bulan Hijriyah :
  1. Muharram
  2. Shafar
  3. Rabi'ul Awal
  4. Rabi'ul Akhir
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Sya'ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulqa'idah
  12. Dzulhijjah

Kamis, 14 September 2017

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah - Maraknya Slogan "Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah" menyeruak menyerukan umat muslimin sejati kepada yang Haq dan meninggalkan kebatilan. 100 Persen orang Islam menyetujui dan membenarkan suatu hal yang menyangkut keislaman seseorang itu. Sabda Rasulullah S.A.W. :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌوَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al-Qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), kerana setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi

Bagi Muslimin sejati slogan kembali kepada sunnah benar sekali dan tidak ada yang meragukannya. Bahkan jika kita tidak mengikuti sunnah, kita bisa menjadi orang yang sesat dan hilang pegangan bahkan tidak selamat didunia dan akhirat. Namun pertanyaannya sekarang adalah Apa itu Sunnah? dan Apa itu Bid'ah?. Umat Islam yang baru belajar tentang agama adalah yang paling cepat menerima makna slogan "Kembali kepada sunnah" ini.

Menyikapi seruan kembali kepada sunnah dan jauhi bid'ah ini perlu adanya pemahaman yeng lebih. Kata "Kembali", seolah-olah menyatakan bahwa umat Islam khususnya di Indonesia ini telah lama "Menjauh" dari Sunnah. Berarti Umat Islam selama ini dari kurun ratusan tahun dalam mengerjakan amalan atau menjalankan syariat Islam lepas dari tuntunan Syari'at?.

Tidak ada satupun golongan dari kurun ke kurun waktu yang menyerukan slogan ini setelah datang satu golongan yang mengatas-namakan Ahlussunnah Wal Jamaah, namun dalam pedoman syariat jauh dari ulama ahlussunnah. ( Baca : Siapa Ahlussunnah Wal Jamaah ). Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda:

”Pada akhir zaman nanti akn muncul kaum berusia muda (ahdasul asnan) berpikiran pendek (sufahaul ahlam), mereka memperkatakan sebaik-baik ucapan kebaikan, mereka membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka itu tidak melebihi (melampui) kerongkongan mereka, mereka memecah agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya maka dimanapun kamu menjumpainya maka perangilah mereka sebab dalam memerangi mereka terdapat pahala disisi Allah pada hari kiamat kelak. ” (Sahih Bukhari/6930, Sahih Muslim/2462, Sunan Abu Daud/4767, Sunan Nasai/4107 Sunan Ibnu Majah/168, Sunan Ahmad/616 ).

Menuntut Ilmu di Internet

Bolehkah menuntut ilmu di internet, seperti di Facebook, Youtube, Twitter atau blog?. Seorang penuntut ilmu baiknya mencari guru yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah S.A.W. Ilmu dan kitabnya pun harus bersanad. Sanad inilah kunci terbaik dalam menuntut ilmu, yang melepaskan diri dari keragu-raguan serta terhindar dari faham yang sesat.

Lalu bagaimana menyikapi tulisan-tulisan mengenai ilmu agama di internet seperti tulisan yang sedang anda baca saat ini?. Bukankah menuntut ilmu itu amalan ibadah (Bid'ah Hasanah)? - Mintalah petunjuk Allah SWT. agar diberi hidayah dalam memahami ilmu yang sedang dikaji. Lihatlah sumber tulisan dan pengarang, jikalau ada yang tidak dipahami alangkah baiknya bertanya kepada yang ahlinya.

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah
Berikut ini AQIDAH ISLAM merekomendasikan seorang ulama dan penceramah yang akhir-akhir ini populer. Beliau adalah seorang Ahli hadits, sesuai kajian judul artikel yang anda baca "Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah" ini.

Jika anda akan mengkaji ilmu fiqih dengan dalil-dalil yang lengkap, tidak sepotong-sepotong sebagaimana anda ingin kembali kepada sunnah. Tontonlah video beliau di youtube, save / simpan sebanyak-banyaknya atau baca tulisan-tulisan di blog beliau. Beliau adalah USTAD ABDUL SOMAD Lc.MA seorang kalahiran Riau Sumatera.

Berikut Link Ust. Abdul Somad Lc.MA :

  • Blog Ust. Abdul Somad Lc.MA : http://somadmorocco.blogspot.co.id/
  • Facebook Ust. Abdul Somad Lc.MA : https://www.facebook.com/UstadzAbdulSomad/
  • Youtube - silahkan ketik kata kunci : Ceramah Ust. Abdul Somad Lc.MA.

Mengapa penulis menyarankan Ustadz Abdul Somad Lc.MA., dikarenakan beliaulah yang mungkin paling cocok bagi penuntut ilmu dizaman seperti ini setelah Alm. KH. Zainuddin MZ tiada. Menurut penulis, Beliau adalah ulama yang sangat cerdas, berwawasan, sanad keilmuan yang tak diragukan lagi. Lulusan ilmu hadits kairo Mesir, berakhlak dan bersahaja. Dan yang terpenting adalah penyampaian ilmu yang berdasarkan dalil lengkap beserta sanad-sanadnya yang tak dijumpai oleh orang yang juga bergelar "Ustadz" lainnya. - Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah. Wallahu A'lam Bissowab.

Kamis, 07 September 2017

Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah

Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah

hukum-makmum-shalat-dilantai-atas-dan-imam-di-bawah
Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah
Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah - Apakah barisan makmum shalat yang ada dilantai dua atau tiga sama dengan yang dibawah, yakni barisan pertama yang lebih utama? Penjelasan : Shalat makmum yang berada dilantai atas sementara imam berada dilantai bawah dihukumi makruh, kecuali tidak menemukan lagi dilantai bawah karena penuh.

Urutan shaf yang berada dilantai atas sama dengan yang berada dilantai bawah. Namun Shaf kedua yang sama posisinya sejajar dengan imam dilantai bawah adalah lebih utama daripada shaf pertama yang berada dilantai atas. - Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah (Lihat: Fatwa Romi juz 1 hal.248, Hawasyi Madaniyah juz 2 hal.27).

Sumber : CN Istifta'

Minggu, 03 September 2017

Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

hukum-adzan-perempuan-dan-syarat-muadzin
Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin
Hukum Adzan Perempuan - Apa hukum seorang wanita (Baligh) adzan dan bagaimana hukum menjawab adzan tersebut?. Menurut pendapat yang kuat, hukum adzan adalah sunnah. Namun dalam permasalahan yang adzan adalah perempuan hendaknya kita mengetahui syarat-syarat menjadi muadzin terlebih dahulu.

Syarat orang yang mengumandangkan adzan (Muadzin) yaitu :
  1. Islam - Non Muslim tidak sah menjadi Muadzin
  2. Tamyiz - Anak kecil yang belum Tamyiz (berumur dibawah 7 tahun) atau orang yang gila, tidak sah menjadi muadzin
  3. Laki-laki - Perempuan tidak sah menjadi muadzin

Perbedaan Adzan dan Iqomah/Qomat - Berbeda halnya dengan Iqamah/Qomat yang disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan. Perbedaannya, dalam adzan disunnahkan dengan mengeraskan suara sedangkan Qomat dilakukan dengan suara yang tidak keras.

Adzan ditujukan untuk memberi tahu masuknya waktu shalat jepada masyarakat, sementara qomat dimaksudkan mengajak kepada jamaah yang hadir untuk melaksanakan shalat.

Oleh sebab itu perempuan tidak boleh menjadi Muadzin, sebab dikhawatirkan suaranya dapat mengundang fitnah bagi yang mendengarkannya.

Disamping itu disunnahkan bagi orang lain untuk melihat kepada muadzin, padahal wajah perempuan termasuk  aurat yang wajib ditutup dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. (rujukan: Tuhyatul Muhtaj, juz 1, hal.467) - Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

Jumat, 01 September 2017

Hukum Mencukur Jenggot Dan Isbal Menurut Ahlussunnah

Hukum Mencukur Jenggot Dan Isbal Menurut Ahlussunnah

hukum-memelihara-jenggot-dan-hukum-celana-isbal-cingkrang
Hukum Memelihara Jenggot

Hukum Memelihara Jenggot

Bagaimanakah sesungguhnya hukum memelihara jenggot bagi lelaki Muslim? Para ulama Fiqih menyatakan bahwa hukum memelihara jenggot hukumnya adalah sunnah sesuai hadits yang disabdakan Baginda Nabi SAW :

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وأَعفوا اللِّحَى
"Singkirkan  kumis dan sempumakan jenggot." ( HR Muslim).

Isu jenggot sempat menyeruak beberapa waktu lalu dan menjadi bahan perbincangan lumayan panas di  media sosial. Jaringan Islam Liberal yang mencoba bermetamorfosis menjadi Islam Nusantara tiba-tiba dengan gencar menista jenggot.

Mereka berkoar bahwa jenggot adalah tanda kedangkalan otak seseorang. Menurut mereka, jenggot merupakan identitas orang Arab dan bukan merupakan ajaran Islam yang perlu diamalkan. Sejatinya mereka berpendapat demikian untuk menyindir orang-orang penganut aliran faham Wahabi yang rata-rata memelihara jenggot panjang.

Namun sindiran mereka itu agaknya salah alamat dan perlu diluruskan. Memelihara jenggot merupakan sunnah yang mesti dihidupkan di tengah kaum Muslimin karena Baginda Nabi SAW melakukannya. Demikian pula Abubakar as-sihiddiq RA, Umar bin Al-Khattab RA, Usman bin Affan RA, Ali bin Abi Thalib RA dan para sahabat lainnya.

Para ulama pakar Hadits, pakar Tafsir, ahli Fiqih dan imam-imam terdahulu juga setia memelihara jenggot sebagai bentuk ittiba' kepada Baginda Nabi SAW. Jadi, jenggot boleh dibilang merupakan identitas sejati pria Muslim. Baginda Nabi SAW menganjurkan laki-laki Muslim untuk memelihara jenggot agar tidak menjadi amrod (laki-laki yang tidak memiliki kumis dan jenggot).

Keberadaan lelaki amrod sangat mencemaskan lantaran bisa memicu gairah sesama jenis dikalangan kaum Adam. Tertariknya kaum lelaki kepada sesama jenis seringkali dipicu oleh para lelaki amrod . Oleh karena itu, para lelaki yang berjenggot hendaknya tidak mencukur jenggotnya sampai bersih. Peliharalah jenggot meski hanya sedikit guna menyempurnakan karakter kelaki­ lakiannya.

Dalam memelihara jenggot, baiknya lelaki berniat meneladani Baginda Nabi SAW agar pahala sunnah terus mengalir kepada dirinya. Jenggot harus dirapikan setiap saat agar tidak berantakan dan terlihat berwibawa.

Sementara itu lelaki yang ditakdirkan tidak berjenggot tidak usah memaksakan diri untuk berjenggot. Ia tidak perlu memakai jenggot palsu agar terlihat "nyunnah.' Jangan sampai pula lelaki yang cuma punya jenggot sehelai dipelihara sampai panjang sehingga terlihat sangat ganjil. Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan.

Sebagai kaum Muslimin kita harus menjaga keindahan diri kita sebagai  bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Jenggot bukan tradisi atau budaya Arab, tapi ajaran sunnah Nabi. Barangsiapa memelihara jenggot demi ittiba ' kepada Baginda Nabi SAW, maka ia akan mendapatkan pahala sunnah. Sementara mereka yang memilih tidak memelihara jenggot tidak akan mendapatkan dosa.

Demikian kaidah shahih yang berlaku untuk jenggot. Kelompok yang menghujat kesunnahan memelihara jenggot tentu tidak memiliki dasar yang jelas. Hadis­-hadits menerangkan dengan gamblang bahwa Baginda Nabi SAW memelihara jenggot, demikian pula para sahabat. Para ulama Syafi'iah menegaskan kesunnahan jenggot, bahkan memakruhkan mencukur jenggot sampai bersih. Malah ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa mencukur jenggot haram.

Jurus pamungkas kelompok Islam Liberal  untuk menyerang syariat Islam adalah mengkaitkannya dengan  adat Arab. Sebelumnya mereka berkoar-koar di media bahwa surban, jubah dan jilbab adalah budaya Arab yang tidak perlu dipraktikkan di Nusantara. Bahkan mereka mengatakan jubah bukan pakaian Baginda Nabi Muhammad SAW, melainkan pakaian Abu Jahal.

Logika yang mereka gunakan untuk merusak syariat Islam jelas sangat dangkal. Sayangnya, kaum awam yang tidak memiliki bekal ilmu yang cukup kerap termakan oleh logika-logika yang mereka utarakan. Seperti halnya jenggot, maka surban, jubah dan jilbab merupakan bagian dari syariat Islam.

Anehnya, orang-orang Liberal tidak pernah mempermasalahkan gaya hidup pemuda muslim yang meniru artis-artis Barat. ManakaIa menyaksikan lelaki Muslim memelihara jenggot, mereka bilang itu adalah budaya Arab yang konyol.

Tetapi bila melihat anak-anak muda mempunyai tato disekujur tubuh, mereka sama kali tidak berkomentar. Bila melihat pemuda Muslim memakai jubah dan surban, dengan nyinyir mereka mengatakan itu gaya hidup Arab Jahiliyah. Sebaliknya, tatkala menyaksikan pemuda Muslim memakai kaos dan celana sobek­sobek lengkap dengan anting-anting di telinga mereka sama sekali acuh tak acuh. Bahkan mereka terkesan merestui  dengan alasan mengikuti perkembangan zaman.

Sebenarnya tidak masalah jika mereka tidak suka memelihara jenggot karena itu memang bukan kewajiban. Tapi tidak usahlah mereka menista kesunnahan yang diteladankan Baginda Nabi SAW itu. Apakah mereka menilai para ulama terdahulu tidak arif dan pandai dengan memelihara jenggot?

Jangan sampai rasa benci  kepada  aliran wahabi  yang identik dengan jenggot membuat mereka merendahkan jenggot. Kalau hendak mengkritisi Wahabi, lakukanlah dengan cara-cara yang elegan. Kesalahan Wahabi jelas-­jelas terletak pada aqidah mereka yang sesat, tidak ada kaitannya sama sekali dengan jenggot.

Sementara itu,bagi kaum Muslimin yang memiliki jenggot hendaknya jangan sampai merasa diri paling "nyunnah" sehingga menganggap kelompok lain meninggalkan Sunnah. Memelihara jenggot adalah kesunnahan, sementara menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kewajiban. Apa artinya jenggot panjang apabila lisan kita gemar mengkafirkan kelompok lain, bahkan dengan mudahnya membunuh saudara sesama Muslim?

Nyatanya seperti itulah sikap orang-orang yang menganut faham Wahabi. Dengan bermodalkan jenggot yang lebat, mereka merasa lebih superior dari kaum Muslimin yang lain, lalu menghabisi kelompok yang berseberangan dengan mereka.
hukum-memelihara-jenggot-dan-hukum-celana-isbal-cingkrang
Hukum Isbal (Cingkrang)

Hukum Celana Isbal (Cingkrang)

Isu yang tak kalah panasnya adalah praktik cingkrang atau memakai celana di atas mata kakio Praktik ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah sebagai berikut :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
"Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka".

Sebagian besar ulama mengharamkan mengenakan pakaian sampai dibawah mata kaki (isbal) jika didasari sikap lil khulayah atau untuk kesombongan. Apabila isbal tidak disertai niat sombong,maka hukumnya tidak haram tetapi makruh.

Demikianlah pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Taimiyah, as-Shan' ani, dan as Syaukani. Keharaman isbal disertai sikap sombong ini juga didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar yang mengungkapkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda :

لا يَنْظُرُ الله إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
"Allah tidak akan memandang orang yang menjulurkan pakaiannya dengan penuh kesombongan" 

Dalam riwayat lain Baginda Rasul SAW bersabda:

ازرةالمؤمنين الى عضلة ساقه ثم الى نسف ساقه , ثم الى كعبه وما تحت الكعبين من  الازار ففي النار
"Sarung seorang Mukmin itu sampai otot betis, lalu sampai  pertengahan betis, lalu sampai mata kaki Ada pun yang di bawah mata kaki itu berada di neraka"(HR Nasai).

Dalam hadits yang berasal dari Abi Said al Khudri, Baginda Nabi bersabda:"Sarung seorang Mukmin itu sampai pertengahan betis dan tidak ada dosa atau tidak masalah dengan apa yang ada di antaranya dan diantara kedua mata kaki. Adapun yang berada di bawah semua itu, maka berada di neraka. Siapa yang menjulurkan sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan  melihat kepadanya di Hari Kiamat." (HR Abu Dawud).

Dalam kitab adab Syariyah karya Ibnu Muflih juz 3 hal 493 tertulis bahwa pengarang kitab muhith dari kalangan ulama madzhab Hanafi meriwayatkan, sesungguhnya Imam Abu Hanifah RA pernah memakai selendang mahal yang harganya 400 dinar dan ia menjulurkannya ke tanah. Kemudian beliau ditanya, "Bukankah kita dilarang melakukan ini?" Maka beliau menjawab, "Larangan itu hanya bagi orang-orang sombong dan kami bukan termasuk diantaranya".

Dalam Hadits riwayat Ibnu Umar, Baginda Nabi SAW bersabda:"Siapa yang menyeret bajunya ke bawah karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di Hari Kiamat". Abubakar as ­Shiddiq RA berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku selalu terjulur, kecuali jika aku perhatikan betul-betul." Baginda Nabi SAW berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukannya karena sombong". (HR Bukhari).

Hukum kebolehan dalam hadits ini tidak hanya dikhususkan kepada Abubakar RA, karena  Baginda Nabi SAW telah menjelaskan alasannya bahwa beliau tidak melakukannya karena sombong. Sejumlah riwayat atsar menjelaskan bahwa sebagian salaf melakukan isbal tanpa sombong. Dalam mushanaf Abi Syaibah diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Masud dengan sanad yang jayid bahwa Ibnu Masud menjulurkan sarungnya.

Ketika ditanya soal itu, beliau menjawab:"Aku memiliki dua betis yang kurus."(Ibn Abu Syaibah). Abi Ishaq mengatakan,"Aku menyaksikan Ibnu Abbas di hari-hari Mina dalam keadaan rambutnya panjang, memakai sarung yang agak isbal dan memakai selendang kuning." (HR Thabrani. Al-Haitsami mengatakan sanad riwayatnya adalah hasan).

Ibnu Abi Syaibah, Abu Nuaim dan Ibnu Saad dalam Thabaqatnya membawakan riwayat dari Amr bin Muhajir yang mengatakan,"Gamis Umar bin Abdul Aziz sampai di antara mata kaki dan tali sandalnya".

Demikianlah hukum isbal (Celana Cingkrang) yang sebenarnya. Para ulama sepakat mengharamkan isbal apabila disertai sikap sombong. Apabila tidak disertai sikap sombong, maka isbal hukumnya tidak haram tetapi makruh.

Oleh karena itu, tidak usah memaksa setiap Muslim untuk memakai celana atau sarung cingkrang, apalagi sampai mensyirikkan kaum Muslimin yang melakukan isbal sebagaimana yang dilakukan orang-orang Wahabi. Mereka tidak sadar bahwasanya dengan menvonis sesat dan syirik kepada kaum Muslimin yang isbal, maka mereka bersikap sombong dan itulah dosa besar yang sama  sekali tidak pernah mereka sadari.

Kelompok yang tidak senang kepada praktik cingkrang tidak usah mencela orang-orang yang memakai celana cingkrang. Biarlah mereka menempuh manhaj mereka sepanjang tidak menyalahi ajaran Baginda Nabi SAW.

Alangkah indahnya Islam apabila masing­ masing umatnya saling menghormati, menghargai dan tidak saling mencemooh. Sesungguhnya perpecahan umat Islam dan perang saudara yang terjadi di tengah umat Islam adalah karena sikap sombong, fanatisme kelompok dan rapuhnya ukhuwah Islamiyah. Akhir tulisan, marilah kita simak video mengenai masalah Hukum Memelihara Jenggot Dan Hukum Isbal (Cingkrang) oleh Al-Ustadz Abdul Somad di bawah ini.


Sumber : cahayanabawiy.com